Monday, October 4, 2010

Persoalan mengangkat tangan ketika berdoa

Adakah setiap kali kita berdoa kita mesti mengangkat tangan? Berikut merupakan bantahan terhadap orang yang berpendapat sedemikian.

Adakah kita mengangkat tangan sewaktu berdoa antara dua sujud, saat doa iftitah, saat doa tasyahud? Ingatlah wahai saudara dan saudariku, setiap apa-apa yang kita amalkan mestilah berpaksikan dalil dan hujah semata bukan mengikut hawa nafsu. Sekiranya sesiapa yang mempunyai bantahan terhadap artikel ini, persilakanlah untuk sama-sama mencari kebenaran. InsyaAllah.

Berdoa Dengan Mengangkat Tangan

Oleh: Ismail bin Marsyud bin Ibrahim Ar-Rumaih

Mengangkat tangan dalam berdoa merupakan etika yang paling agung dan memiliki keutamaan mulia serta penyebab terkabulnya doa.

Dari Salman Al-Farisi رضي الله عنه bahawa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda.

Ertinya : "Sesungguhnya Rabb kalian Maha Hidup lagi Maha Mulia, Dia malu dari hamba-Nya yang mengangkat kedua tangannya (meminta-Nya) dikembalikan dalam keadaan kosong tidak mendapat apa-apa". [Sunan Abu Daud, kitab Solat bab Doa 2/78 No.1488, Sunan At-Tirmidzi, bab Doa 13/68. Musnad Ahmad 5/438. Disahihkan Al-Albani, Sahih Sunan Abu Daud].

Syaikh Al-Mubarak Furi berkata bahwa lafazh hayyun berasal dari lafazh haya' yang bermakna malu. Allah memiliki sifat malu yang sesuai dengan keagungan dzat-Nya kita beriman tanpa menggambarkan sifat tersebut. Lafazh kariim yang bererti Maha Memberi tanpa diminta dan dihitung atau Maha Pemurah lagi Maha Memberi yang tidak pernah habis pemberian-Nya, Dia dzat yang Maha Pemurah secara mutlaq. Lafazh an yarudahuma shifron ertinya kosong tanpa ada sesuatu. [Mur'atul Mafatih 7/363]

Dari Anas رضي الله عنه berkata bahawa

Ertinya: Rasulullahصtidak berdoa dengan mengangkat tangan kecuali dalam solat Istisqa. [Shahih Al-Bukhari, bab Istisqa' 2/12. Shahih Muslim, kitab Istisqa' 3/24].

Imam Hafizh Ibnu Hajar berkata bahawa hadis tersebut tidak menafikan berdoa dengan mengangkat tangan akan tetapi menafikan sifat dan cara tertentu dalam mengangkat tangan pada saat berdoa, ertinya mengangkat tangan dalam doa istisqa' memiliki cara tersendiri mungkin dengan cara mengangkat tangan tinggi-tinggi tidak seperti pada saat doa-doa yang lain yang hanya mengangkat kedua tangan sejajar dengan wajah saja.

Berdoa dengan mengangkat tangan hingga sejajar dengan kedua bahu tidaklah bertentangan dengan hadis di atas sebab baginda pernah berdoa mengangkat tangan hingga kelihatan putih ketiaknya, maka boleh mengangkat tangan dalam berdoa hingga kelihatan ketiaknya, akan tetapi di dalam solat istisqa dianjurkan lebih dari itu atau mungkin pada solat istisqa kedua telapak tangan diarahkan ke bumi dan dalam doa selainnya kedua telapak tangan diarahkan ke atas langit.

Imam Al-Mundziri mengatakan bahwa jika seandainya tidak mungkin menyatukan hadis-hadis di atas, maka pendapat yang menyatakan berdoa dengan mengangkat tangan lebih mendekati kebenaran sebab banyak sekali hadis-hadis yang menetapkan mengangkat tangan dalam berdoa, seperti yang telah disebut Imam Al-Mundziri dan Imam An-Nawawi dalam Syarah Muhadzdzab dan Imam Al-Bukhari dalam kitab Adabul Mufrad. Adapun hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dari 'Amarah bin Ruwaibah bahawa dia melihat Bisyr bin Marwan mengangkat tangan dalam berdoa, lalu mengingkarinya kemudian berkata : "Saya melihat Rasulullah tidak lebih dari ini sambil mengisyaratkan jari telunjuknya. Imam At-Thabari meriwayatkan dari sebagian salaf bahwa disunnahkan berdoa dengan mengisyaratkan jari telunjuk. Akan tetapi hadis di atas terjadi pada saat khutbah Jum'at dan bukan bererti hadis tersebut menafikan hadis-hadis yang menganjurkan mengangkat tangan dalam berdoa. [Fathul Bari 11/146-147].

Akan tetapi dalam masalah ini terjadi kekeliruan, sebahagian orang ada yang berlebihan dan tidak pernah sama sekali mahu meninggalkan mengangkat tangan, dan sebahagian yang lainnya tidak pernah sama sekali mengangkat tangan kecuali waktu-waktu khusus saja, serta sebagian yang lain antara keduanya, ertinya mengangkat tangan pada waktu berdoa yang memang dianjurkan dan tidak mengangkat tangan pada waktu berdoa yang tidak ada anjurannya.

Imam Al-'Izz bin Abdussalam berkata bahwa tidak dianjurkan mengangkat tangan pada waktu membaca doa iftitah atau doa antara dua sujud. Tidak ada satu hadispun yang sahih yang membenarkan pendapat tersebut. Begitupula tidak disunahkan mengangkat tangan tatkala membaca doa tasyahud dan tidak dianjurkan berdoa mengangkat tangan kecuali waktu-waktu yang dianjurkan oleh Rasulullah صلی الله عليه وسلم untuk mengangkat tangan. [Fatawa Al-Izz bin Abdussalam hal. 47].

Syeikh Bin Bazz berkata bahawa dianjurkan berdoa mengangkat tangan karena demikian itu menjadi penyebab terkabulnya doa, berdasarkan hadis Nabi صلی الله عليه وسلم.

Ertinya : Sesungguhnya Tuhan kalian Maha Hidup lagi Maha Mulia, Dia malu kepada hamba-Nya yang mengangkat kedua tangannya (meminta-Nya), Dia kembalikan dalam keadaan kosong tidak mendapat apa-apa". [Hadits Riwayat Abu Daud].

Dan sabda Nabi صلی الله عليه وسلم.

Ertinya : "Sesungguhnya Allah Maha Baik tidak menerima kecuali yang baik dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman seperti memerintahkan kepada para rasul.

Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُلُواْ مِن طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُواْ لِلّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ.

"Wahai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah". [ Surah al-Baqarah 2:172].

Dan firman Allah,

يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ.

"Wahai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang soleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan". [ Surah al-Mukminuun 23:51]

Kemudian beliau menyebutkan seseorang yang lusuh mengangkat kedua tangannya ke arah langit berdoa : “Ya Rabbi, ya Rabbi tetapi makanannya haram, minumannya haram dan pakaiannya haram serta darah dagingnya tumbuh dari yang haram, bagaimana doanya boleh dikabulkan?" [Sahih Muslim, kitab Zakat 3/85-86]

Tidak dianjurkan berdoa mengangkat tangan bila Rasulullah صلی الله عليه وسلم tidak mengangkat kedua tangannya pada waktu berdoa seperti berdoa pada waktu sehabis salam dari solat, membaca doa antara dua sujud dan membaca doa sebelum salam dari solat serta pada waktu berdoa dalam khutbah Jum’at dan Idul fitri, tidak pernah ada hadis yang menyebutkan bahwa Rasulullah صلی الله عليه وسلم mengangkat tangan pada waktu waktu tersebut.

Rasulullah صلی الله عليه وسلم adalah panutan kita dalam segala hal, apa yang ditinggalkan dan apa yang dilaksanakan semuanya suatu yang terbaik buat umatnya, akan tetapi jika dalam khutbah Jum'at khatib membaca doa istisqa', maka dianjurkan mengangkat tangan dalam berdoa sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah صلی الله عليه وسلم. [Sahih Al-Bukhari, bab Istisqa', bab Jamaah Mengangkat Tangan Bersama Imam 2/21].

Dianjurkan mengangkat tangan dalam berdoa setelah solat sunnah tetapi lebih baik jangan rutin melakukannya kerana Rasulullah صلی الله عليه وسلم tidak rutin melakukan perbuatan tersebut dan seandainya demikian, maka pasti kita menemukan riwayat dari beliau صلی الله عليه وسلم terlebih para sahabat selalu menyampaikan segala tindakan dan ucapan beliau baik dalam keadaan mukim atau safar.

Adapun hadis yang berbunyi :

Ertinya : "Solat adalah ibadah yang memerlukan khusyu' dan berserah diri, maka angkatlah kedua tanganmu dan ucapkanlah : Ya Rabbi, ya Rabbi". [Hadits Dhaif, Fatawa Muhimmmah hal. 47-49].

Dan tidak dianjurkan mengangkat tangan dalam membaca doa tawaf sebab Nabi صلی الله عليه وسلم berkali-kali melakukan thawaf tidak ada satu riwayatpun yang menjelaskan bahwa baginda berdoa mengangkat tangan pada saat tawaf.

Sesuatu yang terbaik adalah mengikuti ajaran Rasulullah صلی الله عليه وسلم dan sesuatu yang terburuk adalah mengikuti perbuatan bid'ah.

Cara Mengangkat Tangan Dalam Berdoa.

Ibnu Abbas berpendapat bahawa cara mengangkat tangan dalam berdoa adalah kedua tangan diangkat hingga sejajar dengan kedua bahu, dan beristighfar berisyarat dengan satu jari, adapun ibtihal (istighasah) dengan mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi. [Sunan Abu Daud, bab Witir, bab Doa 2/79 No. 14950. Disahihkan oleh Al-Albani dalam Sahih Sunan Abu Daud].

Imam Al-Qasim bin Muhammad berkata bahawa saya melihat Ibnu Umar berdoa di Al-Qashi dengan mengangkat tangannya hingga sejajar dengan kedua bahunya dan kedua telapak tangannya dihadapkan ke arah wajahnya. [Disahihkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 11/147. Dinisbatkan kepada al-Bukhari dalam kitab Adabul Mufrad tetapi tidak ada].

Ketahuilah Bahwa Doa Istisqa' (meminta hujan) Memiliki Dua Cara

Pertama: Mengangkat kedua tangan dan mengarahkan kedua telapak tangan ke wajah, berdasarkan dari Umair Maula Abi Al-Lahm bahawa dia melihat Nabi صلی الله عليه وسلم berdoa istisqa di Ahjari Zait dekat dengan Zaura' sambil berdiri mengangkat kedua telapak tangannya tidak melebihi di atas kepalanya dan mengarahkan kedua telapak tangan ke arah wajahnya. [Sunan Abu Daud, kitab Shalat bab Raf'ul Yadain fil Istisqa' 1/303 No. 1168. Disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Daud 1/226 No. 1035].

Kedua: Mengangkat tagan tinggi-tinggi dan mengarahkan luar telapak tangan ke arah langit dan dalam telapak tangan ke arah bumi. Dari Anas bahwa beliau melihat Rasulullah صلی الله عليه وسلم berdoa saat istisqa dengan mengangkat tangan tinggi-tinggi dan mengarahkan telapak tangan sebelah dalam ke arah bumi hingga terlihat putih ketiaknya. [Sunan Abu Daud, kitab Solat bab Raf'ul Yadain fil Istisqa' 1/303 No. 1168. Disahihkan oleh al-Albani dalam Sahih Sunan Abu Daud 1/226 No. 1035].

[Disalin dari buku Jahalatun nas fid du'a, edisi Indonesia Kesalahan Dalam Berdoa oleh Ismail bin Marsyud bin Ibrahim Ar-Rumaih, hal 61-69 terbitan Darul Haq, penterjemah Zaenal Abidin Lc (sedikit pengolahan bahasa yang disesuaikan ke dalam bahasa Malaysia terkini)]

Wallahu'alam.

Friday, October 1, 2010

Persoalan mazhab

Dengan ini, saya ingin membawa dalil-dalil dan hujah-hujah bagi orang yang bertanya tentang mazhab. Adakah kita perlu bertaklid? Tajuk ini dinukil daripada terjemahan buku ashlu sifatin solatin nabi صلی الله عليه وسلم, karya Syeikh Muhammad Nashiruddin al-Abani, edisi Indonesia yang diterjemah oleh Abu Zakaria al-Atsary, dan sedikit pengolahan bahasa kepada bahasa Malaysia terkini.


Pernyataan Para Imam untuk Mengikuti As-Sunnah dan Meninggalkan Pendapat Mereka yang Menyelisihi Sunnah

Kiranya, suatu hal yang berguna jika kami memaparkan sejumlah atau sebahagian pernyataan mereka yang kami ketahui. Semoga berguna sebagai nasihat dan pelajaran bagi mereka yang bertaklid kepada para imam tersebut-bahkan taklid kepada seseorang yang darjat kedudukannya lebih rendah daripada mereka-secara taklid buta. (Taklid semacam inilah yang dimaksudkan oleh al-Imam Ath-Thawawi, beliau berkata, “Tidaklah seseorang taklid melainkan ia adalah seorang yang fanatik atau seorang pandir.” Perkataan ini dinukil oleh Ibnu Abidin di kitab Rasmu al-Mufti (1/22) dari Majmu'ah Rasaail-nya). Dan berpegang erat dengan mazhab dan pendapat mereka, seolah-olah bagaikan wahyu yang turun dari atas langit.

Allah SWT berfirman:

اتَّبِعُواْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ وَلاَ تَتَّبِعُواْ مِن دُونِهِ أَوْلِيَاء قَلِيلاً مَّا تَذَكَّرُونَ.


“Kalian ikutilah apa-apa yang diturunkan kepadamu daripada Tuhan kalian dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripada-Nya)” (Surah al-A'raf 7:3)

Mari kita telusuri setiap perkataan imam-imam mazhab yang empat;

1 Imam Abu Hanifah

Yang pertama antara mereka ialah Imam Abu Hanifah an-Nu'man bin Tsabit. Para sahabatnya telah meriwayatkan banyak perkataan dan ungkapan daripadanya. Semuanya melahirkan satu kesimpulan, iaitu kewajipan untuk berpegang teguh kepada hadis dan meninggalkan pendapat para imam yang yang bertentangan dengannya (hadis).

a. Apabila hadis itu sahih, maka itu ialah mazhabku. (Ibnu Abidin di dalam al-Hasyiah (1/63) dan selainnya)

b. Tidak dihalalkan bagi seseorang untuk berpegang kepada perkataan kami selagi ia tidak mengetahui dari mana kami mengambilnya.
(Ibnu Abdil Barr di dalam al-Intiqa’u fi Fadhaili ats-Tsalatsah al-Aimmahi al-Fuqaha’I {hal.145} dan selainnya)


Dalam satu riwayat dikatakan, ”Haram bagi orang yang tidak mengetahui dalil peganganku lantas memberikan fatwa dengan perkataanku.”

Dalam satu riwayat ditambahkan, “Sesungguhnya kami ialah manusia yang mengatakan perkataan pada hari ini dan meralatnya esok hari.”

Dalam riwayat lain dikatakan, “Kasihan engkau wahai Ya'qub (Abu Yusuf). Jangan engkau tulis setiap yang engkau dengarkan daripadaku. Kerana, boleh jadi aku berpendapat hari ini, namun aku meninggalkannya esok. Kadangkala aku berpendapat dengan suatu pendapat esok, namun aku meninggalkannya lusa.”

(Bahagian utama daripada uraian ini dinukil oleh Abu al-Hasanat di dalam an-Nafi'u al-Kabir {hal.135})

c. “Jika aku mengatakan suatu perkataan yang bertentang dengan kitab Allah dan khabar Rasulullah
صلی الله عليه وسلم, maka tinggalkanlah perkataanku.” (Al-Fullani di kitab al-Iqazh {hal 50})


2. Malik bin Anas
Imam Malik berkata:
a. “Sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia yang boleh salah dan boleh benar. Maka perhatikanlah pendapatku. Setiap pendapat yang sesuai dengan al-Kitab dan as-Sunnah, ambillah. Dan yang tidak sesuai dengan al-Kitab dan as-Sunnah, maka tinggalkanlah.”
(Ibnu Abdi al-Barr di dalam kitab al-Jami' (2/32) dan selainnya)

b. ”Tidak ada seorang pun setelah nabi saw, kecuali daripada perkataannya itu ada yang diambil dan ditinggalkan, kecuali nabi
صلی الله عليه وسلم.”
(Ibnu Abdi al-Hadi di dalam kitab Irsyadu as-Salik (227/1) dan selainnya)

c. Ibnu Wahb berkata, “Aku mendengar bahawa Malik ditanya tentang menyela-nyela jari kaki ketika berwudhuk.” Beliau menjawab, ”Amalan itu tidak disyariatkan bagi kaum muslimin.”

Ibnu Wahb berkata, “Maka aku meninggalkannya (tidak memberi komentar) hingga manusia berkurang.” Kemudian aku berkata kepadanya. “Kami mempunyai sunnah yang menerangkan hal itu.”

Beliau berkata, ”Apakah itu?”

Aku (Ibnu Wahb) berkata, “Al-Laits bin sa'ad dan Ibnu Lahi'ah dan Amr bin al-Harits menceritakan kepada kami, dari Yazid bin Amr al-Ma'afiri, dari Abu Abdirrahman al-Hubuly, dari al-Mustaurid bin Syaddad al-Quraisyi, dia berkata, “Aku melihat Rasulullah saw menyela-nyela jari-jari kedua kaki baginda dengan jari kelingkingnya.”

Maka beliau (Imam Malik) berkata, “Hadis ini darjatnya hasan (baik), dan aku belum pernah mendengar hadis ini kecuali saat ini.”

Setelah itu aku mendengar beliau ditanya tentang hal itu, maka beliau memerintah untuk menyela-nyela jari-jari kaki.

(Muqaddimah al-Jarh wa at-Ta’dil oleh Ibnu Hatim {hal 31-32}. Diriwayatkan oleh al-Baihaqi secara lengkap di kitab Sunannya (1/81)

3. Asy-Syafi’i

Adapun perkataan-perkataan yang diambil daripada Imam Syafi’i dalam hal ini lebih banyak dan lebih baik.

(Ibnu Hazm berkata (6/188)), “Sesungguhnya, para ahli fiqh yang ditaklidi itu adalah orang-orang yang membatalkan taklid. Mereka telah melarang sahabat-sahabat mereka untuk bertaklid kepada mereka. Yang paling keras antara mereka adalah Syafi’i. Beliau benar-benar telah menegaskan untuk mengikuti atsar-atsar yang sahih dan berpegang kepada apa-apa yang diwajibkan oleh hujah. Hal seperti ini belum pernah dilakukan oleh selainnya. Ia berlepas diri dari taklid secara umum, dan telah mengumumkan hal itu. Semoga Allah memberikan manfaat dengannya dan memberikan pahala yang besar kepadanya. Demikian itu telah menjadi penyebab adanya kebaikan yang banyak”)

Para pengikutnya pun lebih banyak mengamalkanya dan paling berbahagia. Antara perkataannya:

a. “Tidak ada seorang pun, kecuali dia harus bermazhab dengan sunnah Rasulullah dan mengikutinya. Apapun yang aku ucapkan atau aku tetapkan tentang suatu kaedah dasar sedangkan Rasulullah صلی الله عليه وسلم bertentang dengan ucapanku, maka yang diambil adalah sabda Rasulullah صلی الله عليه وسلم. Dan pendapatku juga seperti itu.”

(Hadis riwayat Hakim dengan sanadnya sampai kepada Syafi’i sebagaimana di dalam Tarikh Dimasyq oleh Ibnu Asakir, (15/1/3), I’lamu al-Muwaqi’in (2/363-364) dan al-Iqazh {hal.100})

b. “Kaum Muslimin telah sepakat bahawa barangsiapa yang telah terang baginya sunnah Rasulullah صلی الله عليه وسلم, maka tidak halal baginya untuk meninggalkan sunnah tersebut, hanya kerana ingin mengikuti perkataan seseorang.”

(Ibnu al-Qayyim(2/361) dan al-Fullani {hal.68})

c. “Apabila kalian mendapatkan di kitabku sesuatu yang bertentang dengan sunnah Rasulullah صلی الله عليه وسلم, maka jadikanlah sunnah Rasulullah صلی الله عليه وسلم sebagai dasar pendapat kalian dan tinggalkanlah apa-apa yang aku katakan.”

(Al-Harawi di dalam kitab Dzammu al-Kalam dan selainnya)

d. “Apabila hadis itu sahih, maka dia ialah mazhabku”

(An-Nawawi di dalam kitab al-Majmu’ dan asy-Sya’rani (1/57) dan beliau sandarkan kepada Hakim, Baihaqi, dan al-Fullani {hal.107})

e. ’Engkau (Imam Ahmad bin Hanbal) lebih tahu daripadaku tentang hadis dan orang-orangnya (Rijalul Hadis). Apabila hadis itu sahih, maka ajarkanlah ia kepadaku apapun adanya, baik ia dari Kufah, Basrah, mahupun Syam. Apabila ia sahih, aku akan bermazhab dengannya”

(Ibnu Abi Hatim meriwayatkannya dalam Adab asy-Syafi’I {hal.94-95} dan selainnya)

f. “Setiap masalah yang sahih daripada Rasulullah صلی الله عليه وسلم bagi ahlu naqli dan bertentangan dengan apa-apa yang aku katakan, maka aku meralatnya dalam hidupku dan setelah aku mati.”

(Abu Nu’aim di dalam al-Hilyah (9/107) dan selainnya )

g. “Apabila kamu melihat aku mengatakan suatu perkataan, sedangkan hadis nabi yang sahih bertentangan dengannya, maka ketahuilah, sesungguhnya akalku telah bermazhab dengannya”

(Hadis riwayat Ibnu Abi Hatim di dalam kitab Adab asy-Syafi’i {hal. 93} dan selainnya)

h. “Apapun yang aku katakan, kemudian terdapat hadis sahih dari nabi صلی الله عليه وسلم yang bertentang dengan perkataanku, maka hadis nabi adalah lebih utama. Olehnya, jangan kalian taklid padaku”

(Ibnu Hatim {hal. 93}, Abu Nu’aim, dan Ibnu Asakir (15/9/2) dengan sanad sahih)

i. “Setiap hadis daripada nabi صلی الله عليه وسلم, maka dia adalah pendapatku, walaupun kalian belum pernah mendengarnya daripadaku”

(Ibnu Hatim {hal. 93-94})

4. Ahmad bin Hanbal

Imam Ahmad adalah salah seorang imam yang paling banyak mengumpulkan sunnah dan paling berpegang teguh kepadanya. Sehingga belaiu membenci penulisan buku-buku yang memuat masalah-masalah fiqh furu’iyah dan ar-Ra’yi (Ibnul Jauzi di dalam kitab al-Manaqib {hal. 192}). Olehnya, beliau berkata:

a. “Janganlah kalian taklid kepadaku, jangan pula kepada Malik, as-Syafi’I, al-Auza’I, mahupun ats-tsauri. Tetapi, ambillah dari mana mereka mengambil.”

(al-Fullani, {hal.113}, dan Ibnu al-Qayyim di dalam kitab al-I’lam (2/302))

Pada riwayat lainnya, “Janganlah engkau taklid dalam perkara agamamu kepada salah seorang daripada mereka. Setiap perkara yang sandarannya kepada nabi صلی الله عليه وسلم dan para sahabat beliau, maka ambillah. Jika ia berasal dari tabi’in, maka seseorang dapat memilih.”

Pada waktu yang lain, beliau berkata, “Makna al-Ittiba’ iaitu seseorang mengikuti apa-apa sahaja yang berasal dari nabi saw dan para sahabat beliau. Adapun yang berasal dari generasi tabi’in, maka dia boleh memilih.”

(Hadis riwayat Abu Daud di dalam kitab Masaail al-Imam Ahmad {hal. 276 dan 277})

b. “Pendapat al-Auza’I, Malik, serta Abu Hanifah, semuanya adalah pendapat. Bagiku semuanya sama adanya. Adapun al-Hujjah hanya ada pada atsar-atsar nabawiyah.”

(Ibnu Abdi al-Bar di dalam kitab al-Jami’ (2/149))

c. “Barangsiapa yang menolak hadis Rasulullah صلی الله عليه وسلم, maka sesungguhnya ia telah berada di tepi kehancuran.”

(Ibnu al-Jauzi {hal. 182})

Itulah perkataan para Imam yang memerintahkan untuk berpegang teguh kepada hadis nabi صلی الله عليه وسلم dan melarang taklid kepada mereka tanpa adanya penelitian yang saksama. Perkataan-perkataan mereka sudah demikian terang dan jelas, sehingga tidak boleh didebat dan diputarbalikkan lagi. Dari sini pula, sesiapa sahaja yang berpegang teguh dengan sunnah yang sahih, walaupun bertentangan dengan perkataan para imam mazhab, sebenarnya dia tidak menyelisihi mazhab mereka dan tidak pula keluar daripada metode mereka. Bahkan , sikap demikianlah yang dikatakan telah mengikuti mereka dan berpegang teguh kepada ikatan kukuh yang tidak dapat diceraikan. Berbeza halnya dengan orang yang meninggalkan as-Sunnah yang sahih hanya kerana bertentangan dengan perkataan para imam mazhab. Dia telah melakukan kederhakaan kepada mereka, menyalahi, dan bertentangan dengan perkataan-perkataan imam tersebut.

Allah berfirman:

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّىَ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسْلِيمًا .

“Maka demi Tuhanmu. Mereka (pada hakikatnya) tidak beriman sehingga mereka menjadikan engkau hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An-Nisa 4:65)

Dan firman-Nya:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cubaan atau ditimpa azab yang pedih.”

Al-Hafiz Ibnu Rajab berkata: "Wajib bagi orang yang telah sampai kepada perintah Rasulullah dan dia telah mengetahuinya untuk menerangkannya kepada umat, menasihati mereka, dan memerintahkan mereka untuk mengikuti perintahnya sekalipun hal itu bertentangan dengan pendapat ulama yang diagungkan. Kerana, perintah Rasulullah lebih berhak untuk diagungkan dan diikuti dibanding pendapat ulama besar mana pun yang menyalahi perintah baginda dalam beberapa perkara, iaitu pendapat ulama itu terkadang keliru. Dari sini terlihat betapa para sahabat dan generasi setelah mereka menolak setiap orang yang menyelisihi as-Sunnah yang sahih dan tidak jarang mereka berlaku keras dalam penolakan ini. Hal ini bukan didasari rasa benci terhadap orang tersebut, melainkan dia seorang yang sangat dicintai dan diagungkan dalam hati mereka. Akan tetapi, Rasulullah lebih dicintai oleh mereka dan perintah baginda lebih utama untuk didahulukan dan diikuti. Dan hal itu tidak menghalangi mereka untuk memberikan penghormatan kepada seorang alim yang menyelisihi perintah baginda walaupun orang itu mendapat ampunan kelak. Seorang alim yang telah menyalahi perintah baginda mendapatkan janji ampunan daripada Allah kelak itupun tidak merasa benci tatkala perintahnya itu diselisihi apabila memang ternyata perintah Rasulullah bertentangan dengan pendapatnya.

(Syeikh Muhammad Nashiruddin al-Abani berkata: “Bagaimana mungkin mereka membenci hal itu, sedangkan mereka telah memerintahkan kepada para pengikutnya – sebagaimana telah disinggung – bahkan mewajibkan mereka untuk meninggalkan perkataan-perkataan yang bertentangan dengan as-Sunnah. Bahkan, asy-Syafi’i telah memerintahkan para sahabatnya untuk menisbatkan as-Sunnah yang sahih kepada – mazhab beliau, walaupun beliau belum mengambilnya atau beliau telah mengambil pendapat yang bertentangan sunnah tersebut. Olehnya, tatkala al-Muhaqqiq, Ibnu Daqiq al-‘Ied, mengumpulkan beberapa masalah iaitu mazhab para imam yang empat menyalahi hadis yang sahih – baik secara sendiri-sendiri mahupun bersama-sama – di dalam kitab yang tebal. Pada bahagian pendahuluan beliau berkomentar:

“Sesungguhnya penisbatan masalah-masalah ini kepada para imam Mujtahidin adalah haram. Bahkan, wajib atas setiap ahli fiqh yang mengikuti mereka untuk mengetahuinya, jangan sampai menisbatkan permasalahan tersebut kepada mereka, yang pada akhirnya berbuat dusta kepada mereka.”)